Kisah sebuah perjalanan hidup..

0

What i’m talking here is about….
Okay…first of all… nice to see u again, blog… after long long long time, I have something to write again…

Hidup itu perjalanan, ya, tentu saja…
Untuk mencapai tempat tujuan, kita terkadang.. oh.. mungkin lebih tepatnya harus melewati beberapa tempat dulu, beberapa orang dan beberapa masalah.. sebelum akhirnya kita sampai di tujuan.. yup.. exactly…
Dalam perjalanan, kita tak selalu hafal jalan mana yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan. Adakalanya kita tersesat dan singgah ke tempat orang yang kita temui dan bertanya ‘maaf, tau jalan ke sini gak?’ Dan jika mereka memang ditakdirkan untuk membantu, mereka akan berkata ‘ya’ dan menunjukkan jalan sembari kita numpang beristirahat dan bercakap cakap tentang pengalaman hidup di tempatnya. Lalu jika sudah waktunya, kita akan pamit, berterima kasih dan melanjutkan perjalanan ke tempat yang seharusnya kita tuju. Adalah normal saat kita meninggalkan orang tadi untuk melanjutkan hidupnya, perjalanannya sesuai takdirnya.

So, is that relevant? Of course.. i’m gonna explain later…
So here is the story… 

Pada suatu ketika, ada seseorang, yang katakanlah tersesat, singgah ke gubuk saya, sekedar istirahat, bercerita tentang pengalaman hidup saya, pengalaman hidup dia. Dia adalah seorang pekerja keras yang hobi bertualang.. yah, seperti saya, yang juga suka mencoba hal baru. Banyak hal dari dia yang mirip dengan saya, dari segi sifat, membuat saya berfikir bahwa mungkin akhir perjalanan dia adalah gubuk saya. Dan well, mungkin dia juga harus melanjutkan perjalanan untuk menjemput sesuatu dulu tapi di akhir, dia harus kembali ke gubuk saya. Untuk pertama, saya kira begitu. Dia yang dulu pertama kenal tak tahu mau kemana. Yaa.. begitulah orang yang tersesat, tidak tahu ke arah mana lagi melangkah, tidak tahu bagaimana harus sampai di tujuannya. Dan tidak tahu harus menjemput apa (jika dia memang harus kembali ke gubuk saya).
Untuk membantu membuka pikirannya, saya bercerita tentang perjalanan hidup saya, tentang apa yang saya usahakan untuk mencapai cita cita, tentang cita cita apa yang harus saya jemput untuk bisa hidup tenang menetap di gubuk ini kembali. Seriously, cita cita yang saya punya tak terbangun dari pemikiran labil satu hari. Ini adalah mimpi semenjak beribu ribu hari yang lalu. Dan saya dalam perjalanan menjemput cita cita itu… cerita saya menarik, memang.. sangat menarik untuk saya. Begitupun untuk dia… saking menariknya bagi dia, dia bertekad untuk mengikuti perjalanan saya. Dia juga ingin mengukir cerita layaknya cerita saya. Tapi hanya satu hal yang saya sayangkan.
Saya bertekad akan membatasi peran orang tua dan bertekad tidak akan merepotkan lagi mulai dari suatu masa tertentu. Bertekad untuk berusaha sendiri mulai dari masa itu.. ingin jadi mandiri. Ingin sampai ke jalan mimpi saya dengan kaki saya sendiri. Bertekad bahwa orang tua hanya akan menerima hasil setelah ini. Bukan lagi membantu. Tak peduli berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk berjalan sampai tujuan itu. Saya sabar, sangat sabar. Saya terbiasa dan diajarkan tentang apa arti berjuang. Berjuang yang memakan waktu lama. Berjuang dengan menikmati waktu berkali kali kegagalan untuk mencapai hasil bahagia yang sangat manis…

Itulah yang saya sayangkan. Dia bukan orang yang sabar. Dia adalah orang yang jika ingin sesuatu, harus didapatkan segera, bak anak manja yang selalu dapat apapun keinginannya. Dia tak tahu apa itu nilai perjuangan. Bagaimana menikmati gagal untuk berhasil.. sayang sekali.. untuk itu dia harus merepotkan orang tua demi perjalanan ini.

Baiklah.. kembali kepada cerita perjalanan itu..
Dulu, saya merasa memang dia akan kembali,. Saya merasa gubuk saya telah mendapat penghuni tetap kedua. Tapi sekarang, saya makin merasa di waktu itu, gubuk saya tidak menerima penghuni tetap, tapi menerima orang tersesat dan letih, yang setelah tahu jalan mana yang akan di tempuh dia kembali berjalan, tanpa menoleh ke belakang. Saya hanya tersenyum dan berujar ‘hati hati ya.  Semoga selamat sampai tujuan,senang sudah bisa membantu anda’.

Memang begitulah keadaan. Begitulah takdir.
Oke, cukup tentang perumpamaan.. saya ingin bicara realita yang baru kali ini saya sadari di umur yang… yaah… sedikit sudah menjelang dewasa…

Tuhan selalu berkata, lelaki baik untuk wanita baik dan lelaki jahat untuk wanita jahat, yang saya artikan sebagai ‘kesetaraan nilai’. Jika nilai saya 7, lelaki untuk saya adalah yang bernilai 7 juga..
Begitukah?
Ya, memang begitu…

Masalahnya yang sesuai dengan analogi di atas adalah begini…

Tuhan telah menetapkan bahwa wanitanya ‘dia’ itu adalah si Z yang bernilai 8. Nah pada waktu itu, nilainya baru 7. Dia harus menaikkan nilai untuk bertemu si Z. Dan di garis tangannya, dia akan bertemu dan akan bisa bersama si Z jika dia sudah menyandang titel ke 2, punya sifat begini begitu, lebih dewasa yang awalnya tentunya dia tidak punya..

Begitu juga saya, laki laki yang untuk saya sudah ditetapkan bernilai 7, dan waktu itu nilai saya 7,5. (Tentu saja karena saya tak pede dengan pengandaian nilai yang terlalu tinggi karena bagi saya nilai 8 itu cukup tinggi, dan kenapa nilai saya lebih tinggi dari nilai laki lakinya ‘saya’. Karena memang saya merasa kekuatan dan kedewasaan pkiran saya tak sebaik dulu. Sekarang sifat negatif saya cukup banyak yang menonjol sehingga saya merasa nilai saya berkurang).

Nah, begitulah fungsi pertemuan dia dengan saya… kami ditakdirkan untuk menjadi kami yang sekarang. Dia butuh saya untuk menaikkan nilainya. Saya bantu dia memberitahu bahwa nilainya akan naik jika dia begini begitu. Dan dia juga membantu mengeluarkan energi negatif saya yang dulunya tertahan cukup dalam, sifat negatif yang kembali saya ingin kubur saat ini…

Jadi? Nah begitulah adanya. Kami sudah seperti kami yang seharusnya.. sekarang waktunya kami melanjutkan perjalanan masing masing, melacak untuk menemukan orang yang ditakdirkan untuk kami.  Mencari penghuni kedua gubuk saya…
(Walaupun saya berharap mendapatkan orang yang nilainya lebih tinggi, untuk itu saya berusaha mengubur lagi energi negatif saya, menaikkan kembali nilai saya). Tapi entahlah.. terkadang kita tak bisa merubah apa yang dituliskan untuk kita…

All I can do is just “trying to be the best and get the best for me”. Bcz I trust myself, I trust God…
Tuhan takkan pernah memberikan yang terburuk, selalu yang terbaik untuk kita, walaupun dengan wujud yang kita kira buruk, tapi tetap saja, itulah yang terbaik bagi kita. Kelak kita akan merasa…

Selamat jalan, kawan… semoga kita temukan hal terbaik yang Tuhan ciptakan untuk kita…

The Meaning of Happiness Changes Over Your Lifetime

2

Confusing, i’m thinking hard bout what happiness mean to me, I tend to be happy if doing extraordinary things, having journey to a place unknown, being champion in some competition, being heard, or something related to it, i’m young, n i’m full of ambitions,
But i’m questioning, is that really a happiness? Or maybe my happiness is as simple as reading new adventure book, listening pop music, or staying quietly in a beautiful place, or maybe just laughing with family and friends? I don’t know,
Maybe I love my life, for everything I have, everything I got, and so on..
Happiness is relatively different according to me, you, and maybe them.
And what really matters is ‘let’s find our happiness’..🙂

Center for Advanced Hindsight

Swinging Happiness for BlogThe following is a scientific and personal article written by CAH member Troy Campbell about happiness.

One lovely afternoon, I began chatting to my grandpa. I was completely unaware he was about to say something that would change my view of happiness forever.

In the middle of our conversation, I felt a lull so I pulled out the classic question. “If you could have dinner with one person, living or dead, who would it be?” I couldn’t wait to talk about my long list of dead presidents, dead Beatles, dead scientists, and a really cute living movie star. But I was also really eager to hear what he’d say.

Then he simply answered, “My wife.”

I immediately assured him it’s not necessary for him to answer like that. We all knew he loves his wife, whom he eats dinner with every night and was currently over in the other room…

View original post 722 more words

Kamu kan tenaga penunjang,bukan tenaga medis, kenapa pake baju putih juga? Bukankah baju putih itu untuk tenaga medis?

0

‘kamu kan tenaga penunjang,bukan tenaga medis, kenapa pake baju putih juga? Bukankah baju putih itu untuk tenaga medis?’,
Bagi saya, kalimat itu bukan sekedar pertanyaan bodoh yang dengan gampang bisa dijawab ‘ya kan dari dulu juga begitu’. Itu adalah kalimat tanya yang sungguh, membingungkan saya dalam menjawabnya. Rasanya campur aduk, ada sedih, heran bahkan kecewa, d kampus kami dhimbau untuk bangga makai atribut putih dan merasa peran kami akan cukup berguna di lapangan dengan posisi yang setara dengan sejawat kesehatan lainnya, namun ternyata bulan pertama saya terjun ke lapangan sebagai anak magang ternyata….. hmmm.. jika memang ya atribut dan seragam macam tu buat tenaga medis lalu kenapa farmasis d luar negri juga pake baju putih? Mereka masuk tenaga medis bukan? Lalu kenapa hmm… maaf, di tempat saya praktek ini hanya profesi kami tenaga penunjang yang make seragam putih? Ahli gizi dan tenaga kefarmasian lain yang notabenenya juga tenaga penunjang punya seragam yang ‘sama’ tapi berbeda dengan kami. Mereka pake warna coklat disini.

Entahlah, mungkin lebih baik bersifat masa bodoh dan jalani saja apa adanya, masalah seragam itu mungkin memang sepele, karena, memang, what’s the matter of uniform anyway, tapi tetap saja seragam itu identitas, dan bangga atas identitas orang lain rasanya janggal sekali, setidaknya itu untuk saya, tapi entahlah, jika memang masalah seragam itu bukan apa apa berarti sah sah saja jika saya tentara tapi saya pake baju polisi dan ikut menertibkan jalanan macet di hari raya, bukan? Tapi kenapa tak ada yang seperti itu? mungkin sebaiknya kawan2 cuek saja, toh tak kan mengubah kenyataan bahwa memang begitu adanya kita sekarang, tapi tetap saja, bagi saya itu sesuatu…
Tapi jika memang putih itu benar identitas kita, dan orang yang bertanya itu salah persepsi, mungkin saya bisa agak lebih lega, jadi lebih santai dan tetap nyaman dengan seragam atau nantinya ‘jas putih’ itu. Tapi, adakah yang bisa jawab dengan yakin kalau orang itu salah? Maka coba yakinkan saya..
Karena jujur, saya sendiri jadi bingung, malah jadi tak nyaman makai seragam ini.
Seriously, rumah sakit itu begitu kompleks, begitu banyak profesi, butuh mental yang kuat, dan saya tak tahu apa saya bisa bertahan jika nasib memilih saya untuk di sana. Ditempat yang bahkan posisi kami abu-abu. Butuh perjuangan kuat untuk bisa benar2 diterima. So tell me, who’s the right one to trust?  What do u think? maybe i’m too ‘lebay’ for thinking that this is a problem….

What a bad day…   😦

Pharmacy is too complicated, isn’t it?

0

Wajar saja apoteker baru terkadang tak begitu menguasai dalam bidang klinis karena waktu praktek yg dhabiskan di rumah sakit hanya 3 bulan sementara dokter menghabiskan waktu 1,5 tahun untuk menggali ilmu dari pengalamannya. Dan di saat 3,5 tahun calon dokter menghabiskan waktu untuk mempelajari segala hal tentang penyakit, diagnosa, dan pengobatannya, apoteker menghabiskan waktu untuk mempelajari segala hal tentang obat, maksud saya- benar benar segalanya-. Mulai dari tanamannya, cara membuatnya, menganalisanya, penyakit dan pengobatannya, serta apa yg terjadi saat obat itu masuk ketubuh. Dan tahukah kamu apa kesimpulan saya? Sederhana.
Kau tak akan menjadi ahli hanya dalam 4 tahun. Karena s1 farmasi itu seperti sma. Semuanya dipelajari. Kau harus ambil pendidikan lebih lanjut tentang topik tertentu dulu untuk menjadi ahli. Istilahnya seperti ‘penjurusan’.dan memang begitu.. wajar jika kami apoteker baru tamat belum mampu menganalisa semua kasus pengobatan di rumah sakit. Karena kami baru belajar ilmu umum dengan praktek yg sebentar,
dokter saja butuh spesialisasi. Apalagi kami.. akan jauh lebihbaik jika farmasi di sini ada penjurusan, yang mau farmasi industri atau klinis akan belajar dengan fokus ilmu yang berbeda. Dan farmasi klinis akan dilanjutkan lagi dengan spesialisasi seperti dokter. Karena masing masing ilmu itu sangat kompleks dan luas sekali..
Percayalah.. pengobatan di indonesia akan lebih baik. Semuanya akan lebih menyenangkan..
Tapi sekarang? Entahlah.. saya tak mungkin mundur dari sini. Saya hanya perlu terima dan fokus saja.. semoga saya bisa lakukan hal ini dengan baik..

Tak mau banyak berfikir di musim ujian..

Mana ikannya yang mana mana… :D

0

image

Katanya : yang kamu lepasin itu ikan kakap lo nak…
Kata saya : hehe… huhu… hihi…🙂

Tentang ini yang terpikir oleh saya hanya satu hal :
Setiap makhluk akan mendapat yang sejenis..
Dan kalau memang itu ikan kakap, berarti saya bukanlah ikan kakap…

Lalu saya ikan jenis apa?
Entahlah.. yang jelas ikan apapun jenis saya, yang akan selalu ada untuk saya nanti tetap saja yang sejenis dengan saya….
Bukankah begitu ketentuannya? Haha..

By the way, rutinitas akhir akhir ini agak membosankan.. -_-

Feeling broken.. more than usual…

0

The problem is unfortunately they never realize how big responsibility coming on their shoulder if they do that…

And they never know that it hurts me, and maybe sometimes it’s gonna destroy us..

Cz in their mind, there’s just always ambition without consideration.. ambition to get higher position or higher carreer than me..

In the end.. i’m the one who’s totally pathetic.. like now..

Hambar..
Okay… hmmmm… just let it go.. let it flow..
I’ve broken my destiny once, and I feel totally sad and pathetic.
now just get my fate willingly and just say that this is my way, my punishment…

But.. it’s just so hard to be patient… -_-!

Ujian? Segitu saja?

0

Kenapa harus belajar jika hal pertama yang terpikir saat dosen atau guru bilang ujian adalah tempat duduk yang mana yang dekat si itu atau tempat duduk mana yang tak begitu terlihat sehingga ada kesempatan untuk melihat kanan kiri, minta jawaban atau melihat jawaban buku atau orang lain..
Hal itulah yg membuat duduk di depan saat ujian menenangkan, karena begitu menyakitkan melihat orang yang saya tunjukkan nilainya melebihi saya, apalagi jika karena nilai itu mereka diterima di tempat kerja yang bagus, dapat beasiswa ini itu, dipuji begini begitu.

Hate too see someone proud for earning nothing..

Ada saatnya saya ingin berbagi, dan ada saatnya saya tak ingin memberi. Karena selalu ada batasan untuk apapun.
Ujian itu memang terkadang tak menyenangkan. Karena lepas dari sana kita bahkan tak mengingat apapun yang kita tulis saat itu. Tapi biarlah.. saya akan lebih bahagia menerima nilai 6 dari dan untuk saya sendiri daripada menerima nilai 8 dari orang lain untuk saya.. dan tentu saja saya akan sangat bahagia sekali jika saya terima nilai 8 itu dari dan untuk saya sendiri.
Walaupun saya tak ingat apa yang saya tulis untuk mendapatkan nilai itu..

Tak masalah tak mengingat pelajaran teori di kelas.. karena pengalaman adalah guru terbaik sepanjang masa. mari kita menambah ilmu dari pengalaman yang berharga..

Periode ujian itu cukup melelahkan otak…